Sabtu, 30 Juni 2012

**NUSA DUA TOUR** ヌサツアー

NUSA DUA TOUR   ヌサツアー


WATER SPORT






Flying Fish
Flying Fish adalah jenis permainan water sport yang terbaru di Tanjung Benoa Water Sport. Permainan ini bisa dimainkan 2 orang penumpang dan 1 orang instruktur di tengah nya. Flying Fish menggunakan speed boat untuk menariknya hingga terbang sekitar 2 sampai 5 meter, tergantung kecepatan angin di lokasi. Durasi permainan ini adalah 2 putaran.

   Jet Ski
Permainan ini menggunakan kendaraan boat seperti sepeda motor yang bisa melaju dengan kecepatan tinggi di air. Bagi pemula akan ditemani seorang instruktur di belakang anda untuk membantu saat di pinggir karena banyak terdapat banyak perahu – perahu. Setelah di tengah laut anda bisa kendarai sendiri. Durasi permainan adalah 15 menit.
















Diving
Diving adalah aktivitas menyelam yang bisa anda nikmati di Bali Water Sport. Di sini anda akan diajak menikmati indahnya alam bawah pantai disertai berbagai jenis ikan warna warni. Sebelum anda memulai penyelaman anda akan diberikan pengarahan mengenai tata cara melakukan penyelaman yang benar. Durasi aktivitas ini adalah 1 kali dive. 

 Diving
Diving adalah aktivitas menyelam yang bisa anda nikmati di Bali Water Sport. Di sini anda akan diajak menikmati indahnya alam bawah pantai disertai berbagai jenis ikan warna warni. Sebelum anda memulai penyelaman anda akan diberikan pengarahan mengenai tata cara melakukan penyelaman yang benar. Durasi aktivitas ini adalah 1 kali dive. 

  
 Snorkeling
Snorkeling adalah wisata menikmati pemandangan bawah laut dari permukaan air dengan menggunakan Masker, Snorkel dan Fin (kaki katak). Kita akan bisa menikmati indahnya trumbu karang dan menyaksikan berbagai jenis ikan yang bertebaran di bawak laut sambil berenang. Durasi wisata snorkeling adalah sekitar 1 jam.



DREAM LAND 

 Pantai Dreamland Dreamland Beach Picture 1







Pantai Dreamland Dreamland Beach Picture 2




 GWK AND ULUWATU 







ULUWATU TEMPLE 












Uluwatu, yang terletak di ujung selatan pulau Bali dan mengarah ke samudra Hindia, merupakan tempat wisata yang menawan, di kawasan ini terdapat Pura Luhur Uluwatu yang mempunyai legenda tersendiri
Pura Luhur Uluwatu adalah salah satu pura di Bali dengan lokasinya yang sangat indah. panoramanya yang spektakuler. Terletak di bagian barat laut, pura ini seperti bertengger di ujung tebing batu yang sangat tinggi dan curam, dengan pemandangan lautnya dibawah berwarna biru bersih dan hantaman ombak yang menghasilkan buih-buih putih yang sangat cantik.

sumber foto : baybali.com
Pura yang berdiri kokoh di atas batu karang yang menjorok ke arah laut dengan ketinggian sekitar 50 meter. Menikmati indahnya sunset pada senja hari dan dan dikaasan ini dapat juga menyaksikan pementasan tari bali yang terkenal ” tari Kecak ” dan disekitar komplek pura terdapat segerombolan monyet. Monyet yang usil suka mengambil kacamata, tas, dompet atau apa saja yang gampang direbut.
Selain itu kawasan pantai di Uluwatu dengan ombaknya yang cukup besar sangat menantang untuk pencinta olahraga surfing. Tiap tahun event berlevel internasional selalu diadakan di pantai seputaran Uluwatu ini.
Untuk bisa masuk kedalam pura ini pengunjung harus mengenakan sarung dan selempang yang bisa disewa ditempat itu. Waktu terbaik untuk mengunjungi pura Uluwatu adalah sore hari pada saat matahari terbenam sehingga bisa menyaksikan pemandangan spektakulernya.
Sejarah
Tahun 1489 Masehi datanglah ke Pulau Bali seorang purohita, sastrawan dan rohaniwan bernama Danghyang Dwijendra , sebelumnya bernama Danghyang Nirartha. menikahi seorang putri di Daha, Jawa Timur. oleh sang Guru dianugerahi bhiseka kawikon dengan nama Danghyang Dwijendra dengan syarat diberi tugas melaksanakan dharmayatra sebagai salah satu syarat kawikon. Dharmayatra ini harus dilaksanakan di Pulau Bali, dengan tambahan tugas yang sangat berat dari guru sekaligus mertuanya yaitu menata kehidupan adat dan agama khususnya di Pulau Bali. Bila dianggap perlu dharmayatra itu dapat diteruskan ke Pulau Sasak dan Sumbawa.
Danghyang Dwijendra datang ke Pulau Bali, pertama kali menginjakkan kakinya di pinggiran pantai barat daya daerah Jembrana , Di tempat inilah Danghyang Dwijendra meninggalkan pemutik atau pengutik dengan tangkai (pati) kayu ancak. Pati kayu ancak itu ternyata hidup dan tumbuh subur menjadi pohon ancak. Sampai sekarang daun kayu ancak dipergunakan sebagai kelengkapan banten di Bali. Sebagai peringatan dan penghormatan terhadap beliau, dibangunlah sebuah pura yang diberi nama Purancak.
Setelah mengadakan dharmayatra di Pulau Bali , dalam perjalanan , Danghyang Dwijendra menuju barat daya ujung selatan Pulau Bali, yaitu pada daerah gersang, penuh batu yang disebut daerah bebukitan. Setelah beberapa saat tinggal di sana, beliau merasa mendapat panggilan dari Hyang Pencipta untuk segera kembali amoring acintia parama moksha. Di tempat inilah Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh teringat (icang eling) dengan samaya (janji) dirinya untuk kembali ke asal-Nya. Itulah sebabnya tempat kejadian ini disebut Cangeling sampai sekarang.
Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh ngulati (mencari) tempat yang dianggap aman dan tepat untuk melakukan parama moksha.kemudian  berpindah lagi ke lokasi lain. di Desa Pecatu , di tempat ini, kemudian dibangun sebuah pura yang diberi nama Pura Kulat. Nama itu berasal dari kata ngulati. dan sambil menangis karena sedih belum mendapatkan tempat yang aman , beliau membuat lagi pura Pura Ngis (asal dari kata tangis). Pura Ngis ini berlokasi di Banjar Tengah Desa Adat Pecatu.
lanjut perjalanan  Beliau kemudian tiba di sebuah tempat yang penuh batu-batu besar. Beliau merasa hanya sendirian. Di tempat ini, lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Batu Diyi. Juga di tempat ini Danghyang Dwijendra merasa kurang aman untuk parama moksha. Dengan perjalanan yang cukup melelahkan menahan lapar dan dahaga, akhirnya beliau tiba di daerah bebukitan yang selalu mendapat sinar matahari terik. Untuk memayungi diri, beliau mengambil sebidang daun kumbang dan berusaha mendapatkan sumber air minum. Setelah berkeliling tidak menemukan sumber air minum, akhirnya Danghyang Dwijendra menancapkan tongkatnya. Maka keluarlah air amertha. Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura yang disebut Pura Payung dengan sumber mata air yang dipergunakan sarana tirtha sampai sekarang.
Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh kemudian beranjak lagi ke lokasi lain, untuk menghibur diri sebelum melaksanakan detik-detik kembali ke asal. Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura bernama Pura Selonding yang berlokasi di Banjar Kangin Desa Adat Pecatu. Setelah puas menghibur diri, Danghyang Dwijendra merasa lelah. Maka beliau mencari tempat untuk istirahat. Saking lelahnya sampai-sampai beliau sirep (ketiduran). Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Parerepan (parerepan artinya pasirepan, tempat penginapan) yang berlokasi di Desa Pecatu.
Mendekati detik-detik akhir untuk parama moksha, Danghyang Dwijendra menyucikan diri dan mulat sarira terlebih dahulu. Di tempat ini sampai sekarang berdirilah sebuah pura yang disebut Pura Pangleburan yang berlokasi di Banjar Kauh Desa Adat Pecatu. Setelah menyucikan diri, beliau melanjutkan perjalanannya menuju lokasi ujung barat daya Pulau Bali. Tempat ini terdiri atas batu-batu tebing. Apabila diperhatikan dari bawah permukaan laut, kelihatan saling bertindih, berbentuk kepala bertengger di atas batu-batu tebing itu, dengan ketinggian antara 50-100 meter dari permukaan laut. Dengan demikian disebut Uluwatu. Ulu artinya kepala dan watu berarti batu.
Sebelum Danghyang Dwijendra parama moksha, beliau memanggil juragan perahu yang pernah membawanya dari Sumbawa ke Pulau Bali. Juragan perahu itu bernama Ki Pacek Nambangan Perahu. Sang Pandita minta tolong agar juragan perahu membawa pakaian dan tongkatnya kepada istri beliau yang keempat di Pasraman Griya Sakti Mas di Banjar Pule, Desa Mas, Ubud, Gianyar. Pakaian itu berupa jubah sutra berwarna hijau muda serta tongkat kayu. Setelah Ki Pacek Nambangan Perahu berangkat menuju Pasraman Danghyang Dwijendra di Mas, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh segera menuju sebuah batu besar di sebelah timur onggokan batu-batu bekas candi peninggalan Kerajaan Sri Wira Dalem Kesari. Di atas batu itulah, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh beryoga mengranasika, laksana keris lepas saking urangka, hilang tanpa bekas, amoring acintia parama moksha.

JIMBARAN 






NET WILL BE CONTINEW .



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar